Ikom.Umsida.ac.id – Membuka media sosial kini menjadi rutinitas yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dalam hitungan detik, pengguna disuguhkan video lucu, berita terkini, hingga rekomendasi produk yang terasa begitu sesuai dengan minat pribadi. Tanpa disadari, semua itu bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil kerja algoritma yang terus mempelajari perilaku pengguna.
Algoritma bekerja dengan mengumpulkan berbagai jejak digital, mulai dari unggahan yang disukai, video yang ditonton hingga selesai, komentar yang ditulis, hingga akun yang sering dikunjungi.
Berdasarkan data tersebut, platform media sosial kemudian menyusun konten yang dianggap paling menarik agar pengguna tetap bertahan lebih lama.
Di satu sisi, sistem ini memberikan pengalaman yang lebih personal dan efisien. Namun, di sisi lain, algoritma juga berpotensi membentuk cara seseorang memahami dunia, menentukan sudut pandang, bahkan memengaruhi keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Personal Branding di Media Sosial: Investasi Karier yang Dimulai Sejak Bangku Kuliah
Ketika Algoritma Menentukan Apa yang Kita Lihat

Setiap kali seseorang melakukan scroll, sebenarnya ia sedang berinteraksi dengan sistem yang terus belajar. Semakin lama pengguna bertahan pada suatu jenis konten, semakin sering pula konten serupa akan muncul di beranda.
Fenomena ini dikenal sebagai filter bubble, yaitu kondisi ketika seseorang lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan minat dan keyakinannya.
Akibatnya, pengguna menjadi semakin jarang menemukan perspektif yang berbeda. Peneliti Eli Pariser dalam bukunya The Filter Bubble menjelaskan bahwa personalisasi berlebihan dapat membatasi keberagaman informasi yang diterima masyarakat.
Hal tersebut juga diperkuat oleh laporan Digital News Report 2025 dari Reuters Institute yang menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat memperoleh informasi melalui media sosial yang dikurasi oleh algoritma.
Kondisi ini membuat pengguna perlu lebih kritis dalam memilah sumber informasi agar tidak terjebak pada ruang gema (echo chamber) yang hanya memperkuat pandangan tertentu.
Baca juga: Seberapa Efektif Konten Marketing Tiktok Mempengaruhi Pembelian Impulsif?
Menjadi Pengguna yang Sadar Digital
Kemudahan memperoleh informasi memang menjadi keuntungan besar di era digital. Namun, literasi digital tetap menjadi kemampuan yang tidak boleh diabaikan.
Pengguna perlu memahami bahwa apa yang muncul di layar bukanlah gambaran utuh dari realitas, melainkan hasil seleksi sistem berdasarkan pola perilaku yang telah direkam sebelumnya.
Membangun kebiasaan untuk memverifikasi informasi, mengikuti sumber yang beragam, serta membatasi waktu penggunaan media sosial dapat membantu memperluas sudut pandang.
Langkah sederhana seperti membaca berita dari media yang kredibel atau sesekali mencari informasi di luar rekomendasi algoritma juga dapat mengurangi bias informasi.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, memahami cara kerja algoritma bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi bekal untuk menciptakan komunikasi yang lebih bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan berpikir kritis dan menyaring pesan menjadi kompetensi penting agar teknologi tetap menjadi alat yang memperkaya wawasan, bukan justru membatasi cara kita berpikir.
Penulis: Airin Zhafirah Rahmah
















