Ikom.umsida.ac.id – Di tengah kesibukan aktivitas jual beli Pasar Larangan, Sidoarjo, sejumlah mahasiswa tampak mendekati pedagang dan pekerja untuk menggali cerita di balik keseharian mereka.
Berbekal pertanyaan dan keberanian untuk memulai percakapan, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) terjun langsung ke lapangan melalui praktik mata kuliah Teknik Interpretatif.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pelajar untuk mengasah keterampilan jurnalistik sekaligus belajar membangun komunikasi dengan narasumber dari berbagai latar belakang.
Baca juga: Bukan Sekadar Selempang, Rizqy Bawa Semangat Pengabdian sebagai Duta Pencerah UMSIDA
Mengasah Keterampilan Jurnalistik di Tengah Aktivitas Pasar
Praktik jurnalistik di Pasar Larangan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, siswa melakukan wawancara dengan pedagang dan pekerja pasar guna menggali informasi mengenai aktivitas sehari-hari mereka. Pengalaman ini menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk mengenali situasi peliputan secara langsung.
Salah satu narasumber, Moris, pedagang sayuran di Pasar Larangan, mengungkapkan bahwa siswa menunjukkan sikap sopan ketika melakukan wawancara.
Menurutnya, siswa terlebih dahulu meminta izin dan menjelaskan maksud kedatangan mereka sebelum mengajukan pertanyaan.
“Kesan awalnya itu sopan. Pertama izin, maksudnya mereka menawarkan diri ingin wawancara. Sedangkan kalau kita menolak, ya mereka nggak maksa,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak merasa terganggu dengan kehadiran siswa. Pengalamannya ketika pernah mendapatkan tugas serupa membuatnya memahami proses siswa dalam mencari sumber untuk menyelesaikan tugas perkuliahan.
Lihat juga: Dosen Umsida Bawa Nama Indonesia dalam Pemilihan Board Crossref 2026
Dari Pedagang Sayur hingga Tukang Becak, Masyarakat Sambut Mahasiswa

Selain pedagang, siswa juga mewawancarai Sugiono, seorang tukang becak yang beraktivitas di Pasar Larangan.
Dalam wawancara tersebut, mahasiswa menggali informasi mengenai rutinitas kerja, mulai dari waktu berangkat hingga jam pulang.
Sugiono menyambut baik kehadiran mahasiswa yang sedang melaksanakan tugas perkuliahan. Ia mengaku tidak merasa terganggu dan bersedia memberikan informasi mengenai kesehariannya sebagai tukang becak.
“Nggak terganggu. Kita kan orang yang mau tugas dari kampus itu, biasa bantu,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan perasaan senangnya karena dapat membantu siswa menyelesaikan tugas mereka.
Tanggapan tersebut menunjukkan bahwa interaksi antara mahasiswa dan masyarakat dapat berlangsung dengan baik ketika dilandasi sikap saling menghargai.
Belajar Membangun Komunikasi dengan Narasumber
Pengalaman mewawancarai pedagang dan pekerja pasar menjadi bagian dari proses pembelajaran jurnalistik secara langsung.
Selain mengasah kemampuan menggali informasi, praktik ini juga memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam menerapkan etika berkomunikasi, seperti meminta izin, menyatakan sikap sopan, dan menghargai kesediaan narasumber.
Tanggapan positif dari Moris dan Sugiono menampilkan pentingnya pendekatan yang santun ketika melakukan wawancara.
Melalui praktik ini, siswa tidak hanya belajar menyusun pertanyaan, tetapi juga memahami pentingnya membangun hubungan yang baik dengan narasumber.
Kegiatan praktik di Pasar Larangan tersebut menjadi pengalaman bagi mahasiswa Ikom Umsida untuk mengenal situasi jurnalistik di lapangan sekaligus mengembangkan keterampilan komunikasi yang dibutuhkan dalam proses peliputan.
Penulis: Salwa Rizky Awalya


















