Ikom.umsida.ac.id – Bagi sebagian mahasiswa, kegagalan sering kali menjadi alasan untuk berhenti mencoba.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi Rahmat Hidayat, mahasiswa semester 4 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida).
Berbekal semangat belajar dan konsistensi mengevaluasi setiap karya, Rahmat berhasil mengoleksi 20 prestasi tingkat nasional di bidang videografi dan konten kreatif.
Perjalanan tersebut bukan hasil yang diraih dalam waktu singkat.
Justru, berbagai kegagalan menjadi bagian penting yang mengantarkannya hingga berada di titik sekarang.
Baginya, setiap kompetisi adalah ruang belajar untuk memperbaiki kualitas karya dan mengembangkan kemampuan.
Baca juga: Mahasiswa Ikom Umsida Raih Juara 2 Best Innovation AI Generated Poster di SILAT APIK PTMA 2026
Dari Ketertarikan Menjadi Prestasi
Minat Rahmat terhadap dunia audio visual sebenarnya telah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMK.
Saat itu, ia mulai mengikuti beberapa perlombaan videografi tingkat sekolah hingga berhasil meraih juara dua dan juara tiga.
Pengalaman serupa juga ia dapatkan ketika mengikuti kompetisi di Balai Latihan Kerja (BLK).
Meski demikian, keinginannya untuk benar-benar menekuni bidang videografi baru muncul ketika menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida, tepatnya saat memasuki semester dua.
Sejak saat itu, ia mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional.
Perjalanan awalnya tidak selalu berjalan mulus. Dibandingkan meraih kemenangan, Rahmat justru lebih sering mengalami kekalahan.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk terus berkembang.
“Saat semester dua, jumlah kegagalan saya jauh lebih banyak dibandingkan kemenangan. Tapi saya tidak pernah menganggap kegagalan sebagai akhir perjalanan,” ungkap Rahmat.
Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa melakukan evaluasi terhadap setiap karya yang telah dibuat.
Mulai dari menyusun ulang konsep, memperbaiki naskah, meningkatkan teknik pengambilan gambar, hingga menyempurnakan proses penyuntingan video.
Lihat juga: Lewat Monolog Storytelling, Mahasiswa Ikom Umsida Jadikan Audio Visual sebagai Media Edukasi Publik
Berkarya Meski dengan Peralatan Sederhana

Hal menarik dari perjalanan Rahmat adalah keberaniannya untuk terus berkarya meski belum memiliki perangkat produksi sendiri.
Hingga saat ini, sebagian karya yang diikutsertakan dalam berbagai kompetisi masih dikerjakan menggunakan peralatan pinjaman.
Baginya, keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang berkualitas.
Sebaliknya, kondisi tersebut justru mendorongnya menjadi lebih kreatif dalam memanfaatkan apa yang tersedia.
“Saya tidak menunggu memiliki perangkat sendiri untuk mulai berkarya. Bagi saya, kesempatan untuk mencoba jauh lebih penting daripada menunggu fasilitas yang lengkap,” ujarnya.
Melalui proses tersebut, Rahmat belajar menyusun konsep yang matang, mengatur proses produksi secara efektif, memilih talent yang sesuai, hingga memastikan pesan dalam video dapat tersampaikan kepada penonton.
Ia juga banyak mengembangkan kemampuan secara mandiri melalui praktik langsung.
Berbagai keterampilan seperti menulis naskah, menyutradarai, hingga mengedit video diperoleh dari pengalaman mengikuti kompetisi dan hasil evaluasi terhadap karya sebelumnya.
Konsistensi Evaluasi Membawa Hasil
Usaha yang dilakukan secara konsisten akhirnya membuahkan hasil. Rahmat berhasil mengumpulkan 20 prestasi tingkat nasional di bidang videografi.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan adalah saat meraih Juara 1 Lomba Videografi Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Prestasi tersebut menjadi pengalaman yang berkesan karena ia berkesempatan menerima penghargaan di Universitas Indonesia.
Bagi Rahmat, pencapaian itu menjadi bukti bahwa proses belajar, keberanian mencoba, dan evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus mampu menghasilkan karya yang lebih baik.
Ia pun mengajak mahasiswa lain untuk tidak takut memulai meski belum memiliki fasilitas yang lengkap.
Menurutnya, masa kuliah merupakan waktu terbaik untuk membangun portofolio, menambah pengalaman, dan menemukan bidang yang ingin ditekuni.
“Ijazah memang penting, tetapi kemampuan, pengalaman, dan karya yang pernah kita hasilkan juga menjadi nilai tambah yang sangat besar,” tutupnya.
Perjalanan Rahmat Hidayat menjadi inspirasi bahwa keberhasilan tidak selalu diawali dengan kondisi yang sempurna.
Justru, keberanian memulai, kemauan belajar dari kegagalan, serta konsistensi mengevaluasi diri menjadi bekal utama untuk meraih prestasi dan terus berkembang di dunia kreatif.
Sumber: Rahmat Hidayat
Penulis: Indah Nurul Ainiyah
















