Ikom.umsida.ac.id – Rangkaian International Virtual Short Course (IVSC) 2026 hari kedua, Rabu (1/7/2026), kembali menghadirkan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida).
Pada Session 4, Istiqomah MMedKom membawakan materi bertajuk “Digital Media, Cultural Identity, and Representation” yang mengulas pengaruh media digital terhadap pembentukan identitas budaya dan representasi masyarakat di era digital.
Di hadapan peserta dari berbagai negara, Istiqomah mengajak mereka untuk melihat kembali bagaimana media digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi.
Istiqomaah juga mengajak mereka memahami ruang yang membentuk cara individu untuk memahami diri sendiri, budaya, dan masyarakat di sekitarnya.
Menurutnya, aktivitas sehari-hari di media sosial secara perlahan memengaruhi cara berpikir, nilai, hingga rasa memiliki terhadap suatu budaya.
Media Digital Mengubah Cara Budaya Berkembang

Dalam pemaparannya, Istiqomah menjelaskan bahwa perkembangan internet telah menghapus batas antara kehidupan fisik dan digital.
Platform media sosial, layanan streaming, hingga algoritma kini berperan besar dalam menyebarkan, membentuk, dan bahkan mengubah budaya dalam waktu yang sangat cepat.
Ia menambahkan bahwa identitas budaya tidak lagi bersifat tetap. Di era digital, identitas terus berkembang melalui interaksi dengan berbagai budaya yang ditemui di ruang digital.
Seseorang dapat tetap mempertahankan nilai budaya lokal sekaligus mengadopsi pengaruh budaya global melalui konten yang mereka konsumsi setiap hari.
Baca Juga: Digital Cinema Jadi Jembatan Budaya Global, Ini Pesan Pakar Filmologi di IVSC 2026
Representasi Menentukan Cara Dunia Melihat Kita
Selain membahas identitas budaya, Istiqomah juga menyoroti pentingnya representasi dalam media digital.
Menurutnya, setiap konten yang dipublikasikan membawa sudut pandang tertentu dan memengaruhi bagaimana suatu kelompok atau budaya dipersepsikan oleh masyarakat luas.
Karena itu, representasi yang adil menjadi salah satu kunci dalam menciptakan ruang digital yang inklusif.
Sebagai contoh, ia mengangkat fenomena K-Pop sebagai bentuk soft power Korea Selatan, gerakan #BlackLivesMatter yang berkembang melalui media sosial, hingga kreativitas Generasi Z Indonesia di TikTok yang memadukan budaya lokal dengan tren global.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa media digital mampu menjadi ruang pertukaran budaya sekaligus memperkuat identitas suatu masyarakat di tingkat internasional.
Baca Juga: Snap & Style Meriahkan Wisuda ke-47 Umsida Lewat Stand Mirror dan Kolaborasi Vendor
Literasi Media Menjadi Kunci di Era Digital
Menutup sesi, Istiqomah mengingatkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menggunakan media digital.
Menurutnya, setiap unggahan, komentar, maupun konten yang dibagikan akan turut membentuk ekosistem budaya digital.
“Media digital membentuk siapa diri kita, tetapi pada saat yang sama kita juga membentuk media digital. Karena itu, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi jadilah kreator yang kritis, kreatif, dan berani menyampaikan cerita yang autentik,” pungkasnya.
Penulis: Putri Mega Safithrih


















