Ikom.umsida.ac.id – Memasuki hari kedua rangkaian International Virtual Short Course (IVSC) 2026, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) menghadirkan dosen Ilmu Komunikasi, M Andi Fikri MIKom, sebagai pembicara pada sesi pertama, Rabu (1/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi bertajuk “Digital Cinema, Cultural Representation, & Global Audience”, yang membahas bagaimana perkembangan teknologi digital telah mengubah industri perfilman sekaligus memperluas jangkauan budaya ke tingkat global.
Transformasi Sinema di Era Digital

Pakar Filmologi tersebut menjelaskan bahwa transformasi dari film analog menuju sistem digital bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan paradigma dalam proses produksi, distribusi, hingga cara masyarakat menikmati film.
Digital cinema membuka peluang yang lebih besar bagi para sineas untuk menghasilkan karya berkualitas dengan biaya yang lebih efisien serta menjangkau audiens internasional melalui berbagai platform digital.
Menurutnya, kemajuan teknologi juga membuat proses distribusi film tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.
Kehadiran platform streaming memungkinkan cerita-cerita lokal dapat dinikmati oleh masyarakat dunia hanya dalam hitungan detik.
Di sisi lain, pengalaman menonton kini menjadi lebih fleksibel karena dapat diakses melalui berbagai perangkat, mulai dari layar bioskop hingga telepon pintar.
Baca Juga: IVSC 2026: Kolaborasi Global Ikom Umsida Perkuat Kompetensi dan Jejaring Internasional
Representasi Budaya Menuju Audiens Global
Dalam pemaparannya, M. Andi Fikri menekankan bahwa digital cinema memiliki peran penting dalam menghadirkan representasi budaya yang lebih beragam.
Teknologi digital memberikan ruang bagi para pembuat film independen untuk menyampaikan perspektif dan identitas budaya mereka kepada khalayak global tanpa harus bergantung pada studio besar.
Ia juga mengangkat beberapa contoh fenomena perfilman dunia, seperti Parasite, Squid Game, hingga Money Heist, yang berhasil menembus batas bahasa dan budaya melalui platform digital.
Menurutnya, keberhasilan film dan serial tersebut menunjukkan bahwa kualitas cerita serta nilai budaya mampu diterima oleh audiens internasional ketika didukung oleh ekosistem digital yang tepat.
Baca juga: Visiting Lecturer di USIM, Dosen Ikom Umsida Bahas Pentingnya Memahami Diri melalui Komunikasi
Tantangan dan Masa Depan Digital Cinema
Selain menghadirkan berbagai peluang, perkembangan digital cinema juga membawa sejumlah tantangan.
Andi menjelaskan bahwa bias algoritma pada platform digital, kesenjangan akses teknologi, persoalan etika data, hingga pembajakan masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian bersama.
Menutup sesi, ia menyampaikan bahwa digital cinema bukan lagi sekadar media hiburan, melainkan telah menjadi identitas baru media abad ke-21 yang mampu menghubungkan berbagai budaya dan memperluas ruang bagi setiap suara untuk didengar.
Melalui perkembangan teknologi digital, sinema diharapkan terus menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai belahan dunia melalui cerita dan nilai-nilai budaya yang mereka miliki.
Penulis: Putri Mega Safithrih


















