Ikom.umsida.ac.id – Mahasiswa Program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida), Annisa Rahma, menjadi host dalam podcast Samata (Setara dalam Hak, Beragam dalam Potensi) yang membahas pentingnya memahami keunikan dan kebutuhan anak istimewa bersama Nurfi, dosen Psikologi, pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Podcast tersebut membahas cara mengenali karakter anak, memahami perilaku serta komunikasi nonverbal, dan merespons kondisi seperti tantrum dan sensory overload agar orang tua dan masyarakat dapat memberikan dukungan yang sesuai.
Mengenali Keunikan Anak
Pembahasan podcast diawali dengan perbedaan cara setiap anak dalam belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi. Perbedaan tersebut dinilai masih dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila lingkungan hanya melihat anak berdasarkan hal yang membedakannya dari anak lain.
Annisa Rahma sebagai host mengarahkan pembahasan kepada pentingnya mengenali karakter dan kebutuhan setiap anak secara individual. Nurfi menjelaskan bahwa tidak ada satu cara yang dapat diterapkan kepada semua anak karena setiap anak memiliki kemampuan dan perkembangan yang berbeda.
“Yang paling penting adalah kita mengenali anak sebagai individu. Jangan hanya melihat apa yang menjadi keterbatasannya, tetapi juga lihat kemampuan dan potensinya. Dari situ kita bisa mengetahui dukungan seperti apa yang sebenarnya mereka butuhkan,” ujar Nurfi.
Annisa juga menyoroti pentingnya tidak memberikan penilaian hanya berdasarkan perbedaan yang terlihat. Pembahasan tersebut menekankan bahwa pemahaman terhadap keunikan anak menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih menerima.
Baca juga: Mahasiswa Magang Ikom Umsida Jadi MC Bazar Hari Santri di SDTQ
Perilaku Adalah Bentuk Komunikasi
Podcast kemudian membahas kondisi ketika anak tidak dapat menyampaikan perasaan atau keinginannya melalui kata-kata. Ekspresi dan perilaku dapat menjadi cara lain bagi anak untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan atau dibutuhkan.
Nurfi mengatakan bahwa orang tua perlu melihat perilaku anak secara lebih menyeluruh sebelum memberikan penilaian. Perilaku yang dianggap sulit atau tidak sesuai harapan dapat menjadi tanda adanya kebutuhan tertentu.
“Ketika anak menunjukkan perilaku tertentu, jangan langsung mengatakan anak itu nakal. Kita perlu melihat apa yang terjadi sebelum perilaku itu muncul dan apa yang mungkin sedang ingin disampaikan anak,” jelasnya.
Menurut Nurfi, kepekaan orang tua dalam mengamati perubahan perilaku dapat membantu menemukan kebutuhan anak. Pendekatan tersebut juga dapat mencegah kesalahpahaman yang membuat anak semakin sulit mendapatkan dukungan.
Lihat juga: Empat Mahasiswa Akuntansi Umsida Petik Pengalaman Berharga di DPRD Sidoarjo
Memahami Tantrum dan Sensory Overload
Topik berikutnya membahas tantrum dan sensory overload yang dapat membuat orang tua bingung ketika menghadapinya. Anak yang menangis, berteriak, atau sulit ditenangkan tidak selalu menunjukkan perilaku yang sama dengan tantrum. Kondisi tersebut perlu dipahami berdasarkan situasi dan kebutuhan anak.
Nurfi menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya tidak langsung memaksa anak berhenti ketika sedang kewalahan.
“Orang tua perlu tenang terlebih dahulu. Coba kurangi hal-hal yang membuat anak semakin tidak nyaman, berikan ruang, dan lihat apa yang menjadi pemicunya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman tersebut penting agar orang tua tidak hanya berusaha menghentikan perilaku anak, tetapi juga mengetahui penyebab di baliknya. Dengan demikian, respons yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Melalui podcast Samata yang dipandu mahasiswa Ikom Umsida Annisa Rahma, pembahasan mengenai anak istimewa diarahkan untuk mendorong masyarakat melihat anak berdasarkan kemampuan dan kebutuhannya. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi kesalahpahaman sekaligus membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi setiap anak.
Penulis: Annisa Rahma Fitri
Penyunting: Salwa Rizky Awalya
















