Ikom.umsida.ac.id – Menjadi mahasiswa baru bukan berarti harus menunggu lama untuk menorehkan prestasi. Hasbi Zulfian Idris, mahasiswa semester 1 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida).
Menunjukkan prestasinya di awal perkuliahan dengan membawa pulang empat medali emas, dua perak, dan satu perunggu dalam Kejuaraan Renang JATIM OPEN Antar Klub Renang se-Indonesia 2026.
Kompetisi yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Kolam Renang Saygon, Pasuruan, tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Hasbi, terutama ketika ia harus menghadapi rasa gugup sebelum akhirnya kembali menemukan kepercayaan dirinya.
Tujuh Medali dari Tujuh Nomor Perlombaan
Dalam kejuaraan tersebut, Hasbi turun di tujuh nomor perlombaan. Empat medali emas diraihnya melalui nomor 50 meter gaya dada, 100 meter gaya dada, 200 meter gaya dada, serta 50 meter gaya bebas.
Sementara itu, dua medali perak diperoleh dari nomor 200 meter gaya ganti dan 50 meter gaya kupu-kupu, sedangkan satu medali perunggu diraih melalui nomor 100 meter gaya kupu-kupu.
Dari seluruh nomor yang diikuti, Hasbi menyebut 50 meter gaya dada menjadi perlombaan yang paling berkesan. Bukan semata karena berhasil meraih emas, tetapi karena nomor tersebut menjadi titik balik setelah dirinya sempat mengalami penurunan mental pada hari pertama.
Baca juga: Bukan Sekadar Selempang, Rizqy Bawa Semangat Pengabdian sebagai Duta Pencerah Umsida
Bangkit dari Rasa Nervous
Kejuaraan yang berlangsung selama tiga hari itu tidak langsung berjalan sesuai harapan Hasbi. Pada hari pertama, ia mengaku sempat merasa nervous hingga membuat mentalnya turun.
Meskipun tetap berhasil meraih podium, hasil tersebut belum sepenuhnya membuatnya puas karena catatan waktunya belum sesuai dengan target.
Memanfaatkan waktu jeda pada hari kedua, Hasbi bersama coach berusaha melakukan evaluasi, terutama terhadap kondisi pikirannya. Proses tersebut membantunya kembali membangun kepercayaan diri sebelum turun di perlombaan berikutnya.
Hasilnya, saat mengikuti nomor 50 meter gaya dada, Hasbi mampu tampil lebih menikmati perlombaan.
“Waktu 50m dada bisa lebih enjoy sama lombanya,” ungkap Hasbi.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa perlombaan tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik, tetapi juga kondisi mental yang baik. Baginya, kemampuan mengendalikan pikiran menjadi bagian penting untuk memberikan performa terbaik di dalam kolam.
Lihat juga: Ditolak Enam Kali Saat Wawancara, Mahasiswa Ikom Umsida Temukan Makna Praktikum Jurnalistik
Latihan Keras hingga Persiapan Spiritual

Di balik pencapaian tujuh medali tersebut, terdapat proses latihan yang tidak mudah. Hasbi menyebut masa persiapan sebelum perlombaan menjadi salah satu tantangan terbesar.
“Tiap datang ke kolam rasanya udah kayak masuk camp neraka,” ujarnya.
Untuk mempersiapkan diri, Hasbi menjaga keseimbangan antara latihan di kolam dan latihan darat. Ia juga memperhatikan waktu istirahat agar tubuh tetap memiliki kondisi yang optimal menjelang pertandingan.
Tidak hanya secara fisik, persiapan juga dilakukan dari sisi spiritual. Hasbi berusaha menjalankan salat tepat waktu dan membiasakan diri untuk melaksanakan tahajud sebagai bagian dari persiapannya menghadapi perlombaan.
Membawa Nama Baik Rumah
Meski berhasil membawa pulang tujuh medali, Hasbi justru merasa hasil tersebut belum menjadi performa terbaiknya. Ia menilai masih ada ruang untuk berkembang dan memperbaiki catatan pada kompetisi berikutnya.
Bagi Hasbi, pencapaian tersebut juga memiliki makna lebih dari sekadar jumlah medali. Sebagai mahasiswa baru Umsida, ia ingin prestasinya dapat menjadi bagian dari upaya membawa nama baik kampus yang ia anggap sebagai rumah.
“Membawa nama baik yang kuanggap rumah adalah tujuan yang paling mulia,” tuturnya.
Dukungan dari Prodi Ikom Umsida juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Hasbi sebagai mahasiswa sekaligus atlet. Dukungan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tetap mengembangkan potensi di luar bidang akademik.
Menutup ceritanya, Hasbi menyampaikan pesan kepada mahasiswa Umsida agar tidak hanya menunggu kesempatan datang, tetapi berani mengejarnya.
“Jangan tunggu prestasi datang sendiri, tapi kejarlah!” tutupnya.
Penulis: Salwa Rizky Awalya


















