Ikom.umsida.ac.id – Media sosial di Indonesia terus mengalami pertumbuhan pesat. Pada 2026, jumlah pengguna diperkirakan mencapai 180 juta orang.
Menariknya, perempuan menjadi kelompok yang mendominasi dengan persentase sebesar 56,3 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi mencerminkan perubahan besar dalam cara perempuan memanfaatkan ruang digital.
Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi ruang favorit, dengan tingkat akses perempuan masing-masing mencapai 82,4 persen dan 78,4 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang untuk membangun koneksi, mengekspresikan diri, hingga membentuk identitas.
Fenomena ini membuka diskusi menarik dari sudut pandang komunikasi, khususnya melalui teori uses and gratifications, yang melihat bagaimana individu aktif memilih media untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
Baca juga: Publikasi atau Pencitraan? Statement Sherly Tjoanda Picu Perdebatan Komunikasi Publik
Media Sosial sebagai Ruang Koneksi dan Ekspresi Diri

Dominasi perempuan di media sosial tidak terjadi tanpa alasan.
Dari perspektif komunikasi, perempuan cenderung menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional.
Media sosial menjadi tempat untuk berbagi cerita, mencari dukungan, hingga membangun relasi dengan orang lain.
Instagram dan TikTok menyediakan ruang visual yang memungkinkan perempuan mengekspresikan diri secara lebih bebas dan kreatif.
Konten seperti keseharian, pengalaman pribadi, hingga opini sosial menjadi bentuk ekspresi yang semakin terlihat di ruang digital.
Fenomena ini sejalan dengan konsep uses and gratifications, di mana pengguna media memiliki tujuan tertentu dalam mengonsumsi dan memproduksi konten.
Dalam konteks ini, perempuan memanfaatkan media sosial untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial dan aktualisasi diri.
Tidak hanya sebagai konsumen, perempuan juga semakin aktif sebagai kreator.
Mereka membangun personal branding, berbagi pengetahuan, hingga mengangkat isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Lihat juga: Teliti Pola Komunikasi di IPM, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Sabet Best Paper ICEMSS 2026
Dari Konsumen ke Pembentuk Wacana Digital

Kehadiran perempuan yang dominan di media sosial juga membawa dampak pada bagaimana isu-isu perempuan dibicarakan dan dipahami.
Platform digital menjadi ruang baru untuk menyuarakan pengalaman yang sebelumnya jarang terdengar di ruang publik.
Isu seperti kesehatan mental, body image, kesetaraan gender, hingga pengalaman sehari-hari perempuan kini lebih sering muncul dan mendapatkan perhatian luas.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi hanya menjadi objek dalam media, tetapi juga subjek yang aktif membentuk narasi.
Namun, dominasi ini juga menghadirkan tantangan. Arus informasi yang cepat sering kali memunculkan standar sosial baru yang tidak selalu sehat.
Tekanan untuk tampil sempurna, validasi dari jumlah likes, hingga perbandingan sosial menjadi sisi lain yang perlu disadari.
Di sinilah pentingnya literasi digital, agar perempuan tidak hanya aktif secara kuantitas, tetapi juga mampu mengelola konten dan interaksi secara bijak.
Implikasi bagi Framing Isu Perempuan di Media Sosial
Dominasi perempuan di media sosial turut memengaruhi cara isu perempuan diframing.
Narasi yang berkembang tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh media konvensional, tetapi juga oleh pengalaman dan perspektif pengguna itu sendiri.
Hal ini memberikan peluang besar untuk menghadirkan representasi yang lebih beragam dan autentik.
Perempuan dapat menyampaikan cerita mereka sendiri, membangun solidaritas, serta mendorong perubahan sosial melalui konten yang mereka buat.
Di sisi lain, algoritma platform juga memainkan peran penting dalam menentukan isu mana yang mendapat perhatian.
Konten yang viral sering kali lebih diutamakan dibandingkan konten yang mendalam, sehingga ada risiko penyederhanaan isu yang kompleks.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menggunakan media sosial tidak hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan advokasi.
Dengan begitu, dominasi perempuan di media sosial tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi juga kekuatan nyata dalam membentuk wacana publik yang lebih inklusif dan bermakna.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah















