Ikom.umsida.ac.id – Wisuda Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) ke-48 Sesi 1 pada Sabtu (24/10/2026) menjadi momen penuh kebanggaan bagi para lulusan Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial (FBHIS). Di antara para wisudawan, terdapat kisah inspiratif mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berhasil menyelesaikan pendidikan di tengah kesibukan bekerja.
Mengasah Potensi Bersama Umsida

Muhammad Akmal Zidan merupakan salah satu wisudawan yang menyelesaikan studi melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sebagai freelancer di bidang content creation, pembawa acara atau Master of Ceremony (MC), hingga musik, Akmal harus membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan.
Sebelum berkuliah di Umsida, ia sempat menempuh pendidikan di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran hingga semester empat. Setelah itu, ia mengambil cuti selama satu tahun untuk bekerja. Ia kemudian memilih Prodi Ilmu Komunikasi Umsida karena tersedia jalur RPL, kelas malam yang fleksibel, serta lokasi kampus yang dekat dengan tempat tinggalnya di Buduran.
“Perjalanannya tidak mudah. Tantangan terbesarnya bukan sekadar membagi waktu, tetapi rasa lelah dan fisik yang terkuras habis bekerja lalu harus lanjut kuliah sampai malam,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Akmal merasa Umsida menjadi ruang untuk mengembangkan potensinya. Selain mengikuti perkuliahan, ia memperoleh kesempatan menjadi MC dalam berbagai kegiatan kampus, termasuk yudisium dan pemutaran film.
Karena itu, Akmal berpesan agar mahasiswa tetap menjaga niat dan disiplin dalam menyelesaikan pendidikan.
“Semalas apa pun, tetap harus dipaksa karena apa yang sudah dimulai harus diselesaikan,” pesannya.
Baca selengkapnya: Mahasiswa Ikom Umsida Dukung Penandatanganan LoI dengan IIUM Malaysia
Konsistensi di Tengah Tuntutan Pekerjaan
Kisah serupa datang dari Raffi Aditya Ramadan, mahasiswa kelas malam yang bekerja sebagai penanggung jawab pekerja alih daya (outsourcing) di PT Karya Bintang Mandiri. Dalam pekerjaannya, ia dituntut untuk selalu siap siaga. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri saat menjalani perkuliahan.
Raffi sempat mengalami gap year selama tiga tahun setelah lulus SMA pada 2019. Namun, ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikan pada 2022 dan berhasil menyelesaikan studi dalam empat tahun.
Menurutnya, pendidikan tinggi merupakan kebutuhan penting untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif. Meskipun sempat kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan tugas kuliah, dukungan dosen pembimbing serta lingkungan kampus membantunya menyelesaikan studi.
Selain dukungan tersebut, Raffi mengenang almarhum Pak Sufi, dosen pembimbing yang mendampinginya sejak penyusunan tugas akhir hingga berhasil memublikasikan karya ilmiah di jurnal.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Selagi ada niat dan bersungguh-sungguh, jalan pasti dibukakan,” tuturnya.
Baca juga: Wisudawan Umsida Temukan Jalan Prestasi dari Riset, Kompetisi, dan Keberanian
Harapan untuk Ilmu Komunikasi Umsida

Kedua wisudawan berharap Prodi Ilmu Komunikasi Umsida terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perkembangan era digital. Selain itu, mereka berharap kampus semakin memperluas kesempatan mahasiswa untuk terlibat dalam proyek kreatif, seperti film, radio, dan berbagai kompetisi.
Kisah Akmal dan Raffi menjadi pengingat bahwa pekerjaan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Sebaliknya, pengalaman bekerja dapat berjalan beriringan dengan proses belajar. Dengan niat, kedisiplinan, dan dukungan lingkungan yang tepat, perjuangan tersebut dapat mengantarkan seseorang menuju keberhasilan.
Pada akhirnya, wisuda bukan sekadar penanda berakhirnya masa studi, melainkan awal perjalanan baru untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Penulis: Sayyidah Irdina Natasya


















