Ikom.umsida.ac.id – “Anak Ikom pasti jago ngomong.” Kalimat seperti itu mungkin sudah tidak asing bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ikom).
Bahkan, tidak jarang jurusan ini dianggap sebagai tempat untuk belajar berbicara di depan banyak orang.
Padahal, setelah menjalaninya, mahasiswa akan menemukan bahwa dunia Ikom jauh lebih luas dari sekadar berdiri di depan mikrofon dan menyampaikan kata-kata.
Ketika Kamera dan Mikrofon Jadi Teman

Ada masa ketika berbicara di depan orang lain terasa menegangkan.
Namun, bagi mahasiswa Ikom, kesempatan untuk melatih keberanian tersebut justru datang berkali-kali.
Presentasi di kelas, diskusi, menjadi pembawa acara, moderator, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan kampus perlahan membuat kemampuan komunikasi menjadi bagian dari keseharian.
Tidak hanya berbicara, mahasiswa juga dituntut untuk mampu beradaptasi dengan situasi.
Berhadapan dengan audiens yang berbeda membutuhkan cara penyampaian yang berbeda pula.
Dari pengalaman-pengalaman sederhana tersebut, mahasiswa mulai memahami bahwa komunikasi bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang berbicara, tetapi juga tentang bagaimana pesan dapat diterima oleh orang lain.
Baca juga: Jangan Cuma Kejar IPK, Maba Perlu Bangun Pengalaman Sejak Awal
Dari Menulis hingga Memproduksi Cerita

Di balik kemampuan berbicara tersebut, ada proses belajar yang beragam. Salah satunya melalui bidang audio visual.
Mahasiswa belajar bahwa sebuah pesan tidak selalu harus disampaikan melalui kata-kata.
Gambar, suara, pemilihan sudut kamera, hingga proses penyuntingan dapat menjadi bagian dari cara membangun sebuah cerita.
Di sisi lain, jurnalistik membawa mahasiswa pada pengalaman yang berbeda.
Mereka belajar mencari informasi, melakukan wawancara, mengolah fakta, kemudian menyusunnya menjadi tulisan yang dapat dipahami pembaca.
Proses tersebut membuat mahasiswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar bertanya, mendengarkan, menggali informasi, dan berkomunikasi dengan narasumber.
Berbagai pengalaman itu menunjukkan bahwa pembelajaran di Ikom tidak hanya berlangsung melalui teori di dalam kelas.
Mahasiswa juga diajak untuk mempraktikkan bagaimana pesan dibuat dan disampaikan melalui berbagai media.
Kamera, tulisan, mikrofon, maupun panggung menjadi sarana untuk mengasah kemampuan tersebut.
Pada akhirnya, pengalaman menjadi mahasiswa Ikom bukan sekadar tentang menjadi seseorang yang pandai berbicara.
Ada proses untuk memahami audiens, memilih cara penyampaian, mengolah informasi, hingga menentukan media yang tepat untuk menyampaikan sebuah pesan.
Mungkin benar jika anak Ikom sering terlihat berbicara di depan banyak orang.
Namun, di balik itu ada kemampuan lain yang ikut dibentuk: menulis, mendengar, mengamati, membuat cerita, dan memahami bagaimana sebuah pesan dapat sampai kepada orang lain.
Jadi, kalau masih ada yang mengira anak Ikom hanya belajar ngomong, mungkin sekarang saatnya melihat Ikom dari sudut yang lebih luas.
Baca juga: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Harus Melek AI
Ketika Komunikasi Menjadi Jembatan
Ikom juga membawa mahasiswa mengenal dunia public relations atau hubungan masyarakat.
Di bidang ini, mahasiswa belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang membangun hubungan dengan publik.
Melalui berbagai kegiatan, mahasiswa belajar mengelola informasi, menyusun publikasi, berkomunikasi dengan pihak lain, hingga memahami bagaimana sebuah organisasi membangun citranya.
Kemampuan tersebut membutuhkan kepekaan dalam melihat situasi dan memahami karakter audiens.
Dari pengalaman itu, mahasiswa mulai memahami bahwa cara berkomunikasi dapat memengaruhi bagaimana sebuah pesan diterima.
Karena itu, seorang komunikator tidak hanya dituntut untuk mampu berbicara, tetapi juga mampu membangun hubungan dan menjaga komunikasi dengan baik.
Penulis: Putri Mega Safithrih


















