Ikom.umsida.ac.id – Pelatihan budidaya maggot yang diselenggarakan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) pada Sabtu (10/10/2026) di Balai RT 10/RW 03, Kampung Kaliampo Bestari, menjadi salah satu upaya mengatasi persoalan sampah organik.
Pengelolaan sampah organik tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) menerapkan keterampilan jurnalistik.
Diantaranya melalui kegiatan dokumentasi, wawancara narasumber, dan pengumpulan informasi untuk pemberitaan.
Praktik ini menjadi kesempatan mahasiswa mengasah kemampuan peliputan secara langsung sekaligus menyebarluaskan informasi mengenai pengelolaan sampah kepada masyarakat.
Pelatihan Budidaya Maggot untuk Pengelolaan Sampah

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kaliampo mengapresiasi penyelenggara yang mendukung kegiatan tersebut dan berharap pelatihan menghasilkan perubahan nyata.
“Terima kasih kepada jajaran pengurus Lazismu dan DLHK yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran sehingga gagasan ini dapat terwujud,” ujarnya.
“Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial, tetapi memiliki tindak lanjut dan membawa kebaikan bersama, minimal dimulai dari keluarga kita,” tambahnya.
Harapan tersebut sejalan dengan upaya DLHK dalam mendorong masyarakat agar lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
Budi Santoso, perwakilan DLHK, menjelaskan bahwa budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengolah sampah organik.
“Maggot BSF merupakan larva lalat Black Soldier Fly yang memiliki kemampuan mengonsumsi bahan organik. Kami berharap masyarakat dapat mengimplementasikan pengetahuan dari pelatihan ini,” jelasnya.
Pengelolaan sampah juga perlu dilakukan secara terorganisasi, termasuk melalui bank sampah dan pemilahan sampah yang dapat didaur ulang,” tambahnya.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah.
Masyarakat berperan memilah serta mengelola sampah dari sumbernya, sementara itu, DLHK diharapkan terus memberikan pendampingan agar upaya tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Sementara itu, praktisi budidaya maggot, Prass, menjelaskan bahwa maggot selain bermanfaat dalam pengolahan sampah organik juga memiliki nilai guna setelah dibudidayakan.
“Dalam kondisi yang sesuai, maggot dapat membantu mengurai sampah organik,” terangnya.
Larva pun bisa dimanfaatkan sebagai sumber protein dan lemak pakan hewan tertentu, sedangkan kasgot (sisa hasil budidaya) berpotensi sebagai pupuk organik,” tambahnya.
Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya yang berguna.
Jika konsisten dan sesuai kebutuhan, budidaya maggot berpotensi membantu mengurangi sampah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Antusiasme peserta selama pelatihan menunjukkan ketertarikan untuk mengenal dan mempraktikkan budidaya maggot lebih lanjut.
Namun, keberlanjutan program tetap membutuhkan penerapan keterampilan, pengelolaan yang tepat, serta pendampingan setelah pelatihan.
Baca Juga: Magang di S2 Ikom Jadi Pengalaman Baru Mengelola Media Digital
Praktik Jurnalistik Mahasiswa di Lapangan

Bagi mahasiswa Ikom Umsida, kegiatan ini menjadi ruang untuk menerapkan proses jurnalistik secara langsung.
Melalui dokumentasi dan wawancara, mahasiswa belajar menggali informasi, memahami berbagai sudut pandang, serta menyusun fakta menjadi berita informatif.
Praktik ini sekaligus menunjukkan peran mahasiswa Ikom dalam menyampaikan informasi kegiatan kepada publik.
Dengan pemberitaan yang faktual dan mudah dipahami, hal itu mempengaruhi penyampaian pesan mengenai pentingnya pengelolaan sampah dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Melalui kolaborasi antara penyelenggara, pemerintah, praktisi, masyarakat, dan mahasiswa.
Pelatihan diharapkan tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berlanjut menjadi langkah nyata dalam pengelolaan sampah.
Upaya ini juga diharapkan membangun kebiasaan bertanggung jawab dan mendukung ekonomi berkelanjutan.
Penulis: Novia Ayu Hafidah
Penyunting: Calya Danastri Daszcho Tanaya


















