Ikom.umsida.ac.id. – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) memproduksi tiga konten edukatif bertema Anak Istimewa sebagai bagian dari kegiatan magang pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Produksi konten ini melibatkan Annisa Rahma sebagai talent, serta Rendra Habibillah dan M. Dimas Ilham sebagai tim pengambilan gambar. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan keterampilan komunikasi digital dan produksi media dalam menyampaikan informasi edukatif kepada masyarakat.
Melalui pemanfaatan media audiovisual dan media sosial, ketiga konten tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai keberagaman karakter, kebutuhan, serta potensi anak.
Penyampaian informasi dikemas melalui beberapa format konten agar pesan edukasi dapat disampaikan secara menarik, komunikatif, dan mudah dipahami oleh audiens.
Baca juga: Kuliah Sambil Bekerja, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Raih Juara 1 Nasional
Mengenalkan Anak Istimewa melalui Konten Edukatif

Konten pertama berjudul “Anak Istimewa Itu Siapa, Sih?” yang dikemas dalam format video pengenalan. Dalam konten ini, Annisa Rahma sebagai talent menyampaikan pemahaman dasar mengenai Anak Istimewa, termasuk keberagaman karakter, kemampuan, cara berkomunikasi, dan pola belajar setiap anak.
Materi tersebut menekankan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda. Sebagian anak membutuhkan dukungan khusus dalam berkomunikasi, belajar, berinteraksi, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami anak secara lebih menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada keterbatasan yang dimiliki.
Rendra Habibillah selaku tim produksi sekaligus narasumber wawancara menjelaskan bahwa konten ini dibuat untuk membangun pemahaman masyarakat agar lebih menghargai kemampuan dan potensi setiap anak.
“Menurut saya, penting untuk memberikan pemahaman bahwa setiap anak itu memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda. Jadi, kita tidak hanya melihat dari keterbatasannya, tetapi juga melihat potensi yang mereka miliki,” ujarnya.
Melalui penyampaian pesan yang sederhana dan informatif, konten ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dalam memahami keberagaman anak.
Lihat juga: Bagi Waktu Kuliah dan Bekerja, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Juara Nasional
Mengemas Informasi Kebutuhan Khusus Anak melalui Motion Graphic
Konten kedua diproduksi dalam format motion graphic dengan tema “Mengenal Berbagai Jenis Kebutuhan Khusus pada Anak”. Konten ini membahas beberapa kondisi, seperti autisme, ADHD, dan disleksia, yang dapat memengaruhi cara anak belajar, berkomunikasi, maupun berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Penggunaan format motion graphic menjadi salah satu upaya untuk menyajikan informasi melalui perpaduan elemen visual dan teks sehingga materi edukasi lebih menarik serta mudah dipahami.
Dalam proses produksinya, Rendra Habibillah dan M. Dimas Ilham bertugas melakukan pengambilan gambar, sedangkan Annisa Rahma berperan sebagai talent.
Materi yang disampaikan juga menekankan bahwa anak dengan kondisi yang sama belum tentu memiliki kebutuhan yang identik. Ada anak yang lebih mudah memahami informasi melalui gambar, sementara anak lainnya terbantu melalui penjelasan langsung ataupun praktik.
“Yang ingin kami sampaikan adalah mengenal kondisi anak memang penting, tetapi memahami kebutuhan individunya jauh lebih penting. Karena setiap anak bisa membutuhkan dukungan yang berbeda,” ungkapnya.
Informasi tersebut diharapkan dapat membantu orang tua, tenaga pendidik, dan masyarakat memahami pentingnya pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Dengan penyajian informasi yang tepat, media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran edukasi sekaligus membangun kesadaran masyarakat.
Meluruskan Mitos tentang Anak Istimewa melalui Media Sosial
Konten ketiga dikemas dalam format Reels/TikTok dengan tema “Mitos atau Fakta: Seberapa Jauh Kita Mengenal Anak Istimewa?”. Konten ini mengangkat sejumlah anggapan yang masih berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa anak dengan kebutuhan khusus tidak dapat berprestasi atau selalu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Melalui konten tersebut, Annisa Rahma menyampaikan bahwa anggapan yang bersifat umum tidak dapat diterapkan kepada seluruh anak. Setiap anak memiliki kemampuan, karakter, minat, dan kebutuhan yang berbeda.
Ada anak yang memiliki kemampuan komunikasi dengan baik, ada yang membutuhkan dukungan dalam berkomunikasi, serta ada pula yang mempunyai kemampuan tertentu yang menonjol.
Rendra menilai bahwa penyampaian informasi yang tepat melalui media sosial dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi stigma dan kesalahpahaman masyarakat terhadap Anak Istimewa.
“Jangan langsung percaya dengan anggapan yang beredar. Kita perlu mencari tahu faktanya terlebih dahulu, karena informasi yang salah bisa menimbulkan stigma. Harapannya, konten ini bisa membuat masyarakat lebih memahami dan menghargai perbedaan setiap anak,” ungkapnya.
Penggunaan format video pendek pada konten ini juga menjadi upaya untuk menyesuaikan penyampaian pesan dengan karakteristik media sosial yang memungkinkan informasi dikemas secara ringkas, menarik, dan mudah dibagikan.
Mengembangkan Kompetensi Produksi Media Mahasiswa Ikom Umsida
Produksi ketiga konten tersebut menjadi bagian dari kegiatan magang mahasiswa Ikom Umsida dalam mengembangkan keterampilan di bidang komunikasi digital dan produksi media audiovisual.
Melalui proses perencanaan materi, penyusunan pesan, penampilan di depan kamera, hingga pengambilan gambar, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam mengolah informasi menjadi konten yang komunikatif dan memiliki nilai edukasi.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pemanfaatan media digital sebagai sarana komunikasi publik. Tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi, produksi konten juga memperhatikan bagaimana pesan dikemas agar dapat diterima dan dipahami oleh audiens.
Melalui konten bertema Anak Istimewa, mahasiswa berharap informasi yang dipublikasikan dapat memperluas wawasan masyarakat, mengurangi kesalahpahaman, serta mendorong terbentuknya lingkungan yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman setiap anak.
Penulis: Annisa Rahma
Penyunting: Salwa Rizky Awalya

















