Ikom.umsida.ac.id. – Mata kuliah Fotografi di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) yang diampu oleh Andi Fikri SIKom MIKom. tidak hanya mengajarkan teknik pengambilan gambar, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya visual yang memiliki nilai cerita.
Salah satu proyek menarik datang dari mahasiswa semester 2 kelas 2/A2, Sayyidah Irdina Natasya, yang mengangkat tema “Jejak Akulturasi Budaya di Gunung Kawi.”
Melalui proyek tersebut, Tasya berupaya mendokumentasikan perpaduan budaya yang telah lama berkembang di kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang.
Baginya, kawasan ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana budaya Jawa, Tionghoa, dan nilai-nilai spiritual dapat hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap keberagaman budaya yang tercermin melalui arsitektur, tradisi, simbol, hingga aktivitas masyarakat dan para peziarah yang datang ke Gunung Kawi.
Menggabungkan Riset dan Teknik Fotografi

Sebelum melakukan pemotretan, Tasya terlebih dahulu melakukan riset mengenai sejarah serta budaya Gunung Kawi. Setelah itu, ia menyusun konsep dan shot list sebagai panduan agar proses pengambilan gambar berjalan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
Saat berada di lokasi, ia mengabadikan berbagai objek, mulai dari kawasan pesarean, bangunan bernuansa Jawa dan Tionghoa, tempat ibadah, ornamen budaya, hingga aktivitas para peziarah.
Seluruh hasil dokumentasi kemudian melalui proses seleksi dan penyuntingan untuk memperkuat nuansa budaya tanpa menghilangkan keaslian foto.
Untuk menghasilkan karya visual yang mampu bercerita, Tasya menerapkan beberapa teknik fotografi seperti rule of thirds agar objek utama terlihat lebih menarik, wide shot untuk menampilkan keseluruhan suasana kawasan Gunung Kawi, serta close-up guna memperlihatkan detail ornamen, simbol, dan benda-benda yang mencerminkan akulturasi budaya.
Selain itu, ia lebih banyak memanfaatkan cahaya alami karena sebagian besar proses pemotretan dilakukan di area luar ruangan sehingga hasil foto terlihat lebih natural.
Baca juga: Ikom Umsida Ikuti SILAT APIK PTMA 2026, Perkuat Kolaborasi dan Inovasi Digital Beretika
Menghormati Nilai Sakral di Balik Lensa

Di balik proses kreatif tersebut, Tasya menghadapi tantangan ketika beberapa area di kawasan Gunung Kawi tidak diperbolehkan untuk didokumentasikan.
Area makam Kanjeng Kyai Zakaria II (Eyang Djoego), Raden Mas Iman Soedjono, serta beberapa titik lainnya memiliki aturan yang melarang aktivitas fotografi demi menjaga kesakralan tempat.
Kondisi tersebut membuatnya harus menyesuaikan konsep pengambilan gambar dengan tetap menghormati aturan, etika, serta nilai budaya yang berlaku.
Baginya, pengalaman tersebut justru memberikan pelajaran bahwa tidak semua cerita harus disampaikan melalui sebuah foto.
Saat memasuki area makam, ia mengikuti tradisi nyekar dengan membawa bunga yang kemudian diserahkan kepada juru kunci. Setelah berdoa, bunga tersebut dikembalikan dalam balutan kertas cokelat untuk dibawa pulang sebagai simbol doa agar perjalanan hidup selalu diberikan keselamatan.
Selain itu, Tasya juga mengikuti kirab dari padepokan menuju area makam, mengamati ramainya penjual bunga nyekar, mendengarkan cerita dari beberapa juru kunci, hingga mengenal tradisi Ciam Si di Klenteng Dewi Kwan Im sebagai salah satu praktik mencari petunjuk spiritual.
Ia bahkan mencoba meminum air dari kendi peninggalan Eyang Djoego yang dipercaya masyarakat memiliki khasiat bagi kesehatan, meskipun benda tersebut tidak diperbolehkan untuk difoto.
“Saya belajar bahwa Gunung Kawi bukan hanya tentang mitos yang sering beredar di masyarakat, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan toleransi yang sangat kuat. Melalui karya ini, saya ingin mengajak orang lain melihat Gunung Kawi dari sudut pandang yang lebih terbuka dan memahami bahwa sebuah pengalaman dapat menjadi cerita yang sama berharganya dengan sebuah foto,” ungkapnya.
Lihat juga: Snap & Style Hadirkan Convex Mirror Kreatif di Yudisium FBHIS Umsida 2026
Fotografi Sebagai Media Visual Storytelling
Menurut Sayyidah, proyek fotografi ini memberikan pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar mempelajari teknik pengambilan gambar.
Ia belajar mengamati lingkungan secara lebih peka, mencari cerita di balik sebuah objek, berinteraksi dengan masyarakat sekitar, serta menghasilkan karya visual yang mampu menyampaikan pesan kepada penikmatnya.
Pengalaman tersebut juga melatih kemampuan komunikasi, kreativitas dalam menentukan sudut pengambilan gambar, serta menumbuhkan sikap menghargai nilai sejarah, budaya, dan aturan yang berlaku di setiap lokasi dokumentasi.
Baginya, keterampilan tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi dalam menghasilkan karya visual yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memiliki makna.
Ke depan, Tasya berharap mata kuliah Fotografi yang diampu Andi Fikri SIKom MIKom semakin banyak menghadirkan praktik langsung di lapangan dengan tema-tema yang beragam.
Ia juga berharap mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis fotografi, tetapi juga kemampuan membangun visual storytelling, sehingga setiap foto yang dihasilkan mampu menyampaikan cerita, nilai, dan pesan kepada masyarakat.
Penulis: Salwa Rizky Awalya


















