Ikom.umsida.ac.id. – Perjalanan setiap siswa menuju kelulusan memiliki cerita yang berbeda. Bagi Ade Putra Satria, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida), perjalanan tersebut dipenuhi dengan kerja keras, konsistensi, dan semangat untuk terus berkembang.
Pada Yudisium Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial (FBHIS) Umsida tahun 2026, Ade berhasil meraih predikat Terbaik 1 Program Studi Ilmu Komunikasi. Pencapaian tersebut menjadi hasil dari proses panjang yang ia jalani sejak awal perkuliahan.
Berawal dari Jalur KIP-K
Dibalik prestasinya saat ini, Ade menyimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui orang. Sebelum menjadi mahasiswa Umsida, ia sempat beberapa kali gagal memperoleh kesempatan kuliah melalui berbagai jalur beasiswa.
Saat itu, Umsida bahkan dianggapnya sebagai pilihan terakhir hingga sebuah unggahan media sosial mempertemukannya dengan jalur KIP-K Umsida.
Tidak ingin asal memilih jurusan, Ade terlebih dahulu mencari informasi mengenai program studi yang sesuai dengan minatnya.
Pilihannya akhirnya jatuh pada Ilmu Komunikasi karena selaras dengan ketertarikannya pada bidang desain, fotografi, dan videografi sejak SMA.
“Saya memilih Ilmu Komunikasi karena selaras dengan passion saya sejak SMA. Setelah melihat mata kuliahnya satu per satu, saya semakin yakin bahwa jurusan ini memang cocok untuk saya,” ujarnya.
Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan yang kemudian mengantarkannya meraih predikat mahasiswa terbaik.
Baca juga: Konsistensi Berbuah Prestasi, Asmaul Khusna Jadi Mahasiswa Terbaik 3 Ikom Umsida
Dikenal Ambisius dan Selalu Memberikan yang Terbaik

Sejak awal perkuliahan, Ade dikenal sebagai pelajar yang memiliki semangat belajar tinggi. Ia selalu berusaha memaksimalkan setiap kesempatan dan menjadikan akademik sebagai prioritas utama.
Menurutnya, prestasi tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses yang dijalani secara konsisten. Prinsip tersebut membuatnya terus berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap tugas dan tanggung jawab yang diemban.
“Tiap semester saya selalu berusaha memaksimalkan potensi yang ada. Bagi saya, belajar tetap menjadi prioritas nomor satu. Saya tidak pernah menuntut hasil yang sempurna, tetapi saya percaya bahwa usaha tidak akan pernah memecahkan hasil,” ungkapnya.
Prinsip tersebut juga mendorong Ade untuk aktif mengikuti berbagai program yang dapat mendukung pengembangan dirinya selama menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi.
Lihat juga: Snap & Style Hadirkan Convex Mirror Kreatif di Yudisium FBHIS Umsida 2026
Tantangan Menjadi Mahasiswa Rantau
Perjalanan kuliah Ade tidak selalu berjalan mulus. Sebagai pelajar rantau yang tinggal di kos, ia harus belajar hidup mandiri sekaligus mengatur waktu antara perkuliahan dan aktivitas sehari-hari.
Tantangan lainnya datang dari dinamika tugas kelompok yang menuntut kemampuan beradaptasi dan tanggung jawab yang tinggi. Dalam beberapa kesempatan, ia harus mengambil peran lebih besar agar pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik.
Meski tidak mudah, berbagai pengalaman tersebut justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih disiplin, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai situasi dengan baik.
Memanfaatkan Setiap Kesempatan untuk Berkembang
Selama menjadi mahasiswa Ikom Umsida, Ade aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk mengembangkan kemampuan akademik maupun profesionalnya.
Ia pernah mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa ke Yogyakarta, terlibat dalam penelitian Program BIMA bersama dosen, serta menjalani magang di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sidoarjo dan Program Studi Ilmu Komunikasi Umsida.
Berbagai pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, penelitian, serta keterampilan profesional yang akan menjadi bekal di dunia kerja.
Di antara berbagai pengalaman yang diperoleh, proyek pembuatan film menjadi salah satu yang paling berkesan karena memberikan kesempatan untuk kreativitas kreativitas, kemampuan teknis, dan kerja sama tim.
Ingin Menjadi Sarjana Pertama di Keluarga
Bagi Ade, predikat Terbaik 1 bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang mewujudkan impian keluarga. Ia mengaku orang tua menjadi sosok yang paling berperan dalam perjalanan akademiknya.
Keterbatasan ekonomi yang sempat membuat ragu untuk kuliah justru menjadi motivasi untuk memanfaatkan kesempatan yang ada sebaik mungkin. Ia memiliki tekad untuk menjadi sarjana pertama di keluarganya dan memuaskan kedua orang tuanya.
“Mengingat keterbatasan ekonomi yang sempat membuat saya ragu bisa kuliah, kesempatan beasiswa ini tidak ingin saya sia-siakan. Saya ingin membuktikan kepada Ibu dan Bapak bahwa anak mereka mampu membawa gelar sarjana ke rumah,” tuturnya.
Terus Berproses Meraih Impian
Setelah lulus, Ade berencana membangun karier di perusahaan BUMN maupun media industri yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Selain itu, ia juga memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister melalui program beasiswa LPDP.
Kepada siswa lainnya, Ade berpesan agar tidak mudah menyerah terhadap keadaan dan terus percaya pada proses yang sedang dijalani.
“Jangan pernah menyerah dengan keadaan. Jangan putus asa jika apa yang kita impikan belum terwujud hari ini. Percayalah bahwa ketetapan dan rezeki dari Allah itu nyata dan akan datang pada waktu yang tepat. Teruslah berproses,” pesannya.
Kisah Ade Putra Satria menjadi bukti bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Dari seorang mahasiswa yang sempat mengalami beberapa kegagalan dalam meraih kesempatan kuliah, kini ia berhasil menorehkan prestasi sebagai Terbaik 1 Program Studi Ilmu Komunikasi Umsida.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kerja keras, konsistensi, dan keyakinan terhadap proses mampu mengantarkan seseorang menuju pencapaian terbaik dalam hidupnya.
Penulis: Salwa Rizky Awalya


















