Ikom.umsida.ac.id – Pertunjukan ludruk bertajuk “Besut: Jajah Deso Milangkori” yang digelar di Dewan Kesenian Sidoarjo (DAKESDA).
Pada Jumat (10/4/2026) malam tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran bagi Mahasiswa Semester 6 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida).
Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang mengharuskan mahasiswa melakukan observasi langsung terhadap pertunjukan seni.
Melalui kegiatan ini, Mahasiswa dapat keluar dari rutinitas pembelajaran kelas dan terlibat langsung dalam pengalaman budaya.
Metode ini dianggap dapat meningkatkan pemahaman kontekstual, terutama dalam membangun kemampuan menulis deskriptif dan observasi.
Baca juga: Angkat Budaya Lokal, Mahasiswa Ikom Umsida Garap Dokumenter di Sentra Batik Jetis
Pembelajaran di Luar Kelas yang Lebih Bermakna

Diva, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi semester enam, mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman baru yang luar biasa.
Ia menganggap pendekatan pembelajaran ini lebih efektif karena siswa memiliki kesempatan untuk melihat, mendengar, dan merasakan secara langsung objek yang akan dibahas.
“Kegiatan ini bukan hanya melatih kemampuan kita untuk menulis deskripsi tetapi juga observasi atau terjun langsung untuk mengikuti serangkaian acara yang ada, sehingga kita menulis secara faktual sesuai dengan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan,” ujarnya.
Pembelajaran berbasis pengalaman dinilai dapat meningkatkan keterlibatan siswa sambil mengurangi kejenuhan yang terkait dengan pembelajaran kelas konvensional.
Baca juga: StockLab Jadi Arena Adu Strategi Mahasiswa FBHIS Umsida Menuju Kompetisi Nasional
Mengenal Kearifan Lokal Melalui Ludruk

Pertunjukan ludruk “Besut” memiliki manfaat besar dalam mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda, terutama Gen Z.
Setiap cerita dan dialog mengandung humor, kritik sosial, dan filosofi kehidupan.
Mahasiswa tidak hanya menonton pertunjukan; mereka juga diajarkan untuk memahami nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.
Hal ini menjadi penting di tengah arus globalisasi yang sering mengasingkan budaya tradisional dari generasi muda.
Dengan menggunakan seni pertunjukan untuk menyampaikan pelajaran, ludruk sekali lagi membuktikan fungsinya sebagai media pendidikan yang relevan.
Kegiatan ini menambah wawasan budaya Mahasiswa dan membuat belajar lebih menyenangkan dan bermakna.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 6, Nabilah, mengatakan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di kelas pada umumnya.
Menurutnya “Sebagai gen z yang mungkin terbatas akan pengetahuan budaya lokal, hal ini bisa mengingatkan bahwa kearifan lokal tanah air sangat beragam dan indah,” ungkapnya.
Penulis: Putri Mega Safithrih


















