ikom.umsida.ac.id. – Ramadan selalu datang dengan gegap gempita. Hari pertama penuh semangat, masjid ramai, target ibadah ditulis rapi di catatan ponsel.
Tapi mari jujur pada diri sendiri: berapa kali Ramadan hanya terasa sebagai rutinitas? Sahur, menahan lapar, menunggu berbuka, lalu selesai.
Jika puasa hanya dimaknai sebagai menahan perut, maka esensinya berhenti di fisik. Padahal, Ramadan adalah momentum revolusi diri.
Ia bukan sekadar kewajiban, tetapi ruang latihan untuk mengendalikan ego, emosi, dan kebiasaan buruk yang selama ini dibiarkan tumbuh.Seperti yang pernah disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat,
“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi menahan diri dari segala hal yang merusak nilai ibadah.”
Kutipan itu seperti alarm yang membangunkan: jangan sampai Ramadan hanya menyentuh tubuh, tapi tidak menyentuh hati.
7 Amalan Simpel, Tapi Bisa Mengubah Arah

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru konsistensi kecil yang diam-diam membentuk karakter.
- Mulai dengan niat yang sadar. Tanyakan pada diri: Ramadan ini mau jadi titik biasa atau titik balik?
- Baca satu halaman Al-Qur’an setiap hari. Tidak perlu langsung banyak, yang penting konsisten.
- Jaga lisan dan jari. Di era digital, puasa juga berarti menahan komentar sinis dan unggahan yang sia-sia.
- Perbaiki kualitas salat. Hadir sepenuhnya, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
- Sedekah versi mahasiswa. Tidak harus nominal besar; ketulusan jauh lebih bernilai.
- Manfaatkan waktu mustajab menjelang berbuka untuk berdoa sungguh-sungguh.
- Lakukan refleksi sebelum tidur. Evaluasi sederhana sering kali lebih jujur daripada pengakuan di depan orang lain.
Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan,
“Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
Kalimat ini terasa keras, tetapi relevan. Karena tanpa kesadaran dan perbaikan diri, Ramadan bisa berlalu tanpa jejak.
Lihat juga: Gen Z dan Digital Activism: Gerakan Sosial di Era Media Sosial
Naik Level atau Tetap Sama?
Ramadan adalah peluang tahunan yang tidak semua orang dapatkan kembali. Ia adalah kesempatan memperhalus hati, menata ulang prioritas, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan serta sesama.
Pertanyaannya sederhana: Ramadan tahun ini mau sekadar lewat, atau benar-benar mengubah?
Kalau hanya lapar, semua orang bisa. Tapi kalau berani berubah, itu pilihan yang tidak semua orang ambil. Mode sudah ON. Sekarang, saatnya naik level.
Penulis: Salwa Rizky Awalya


















