Dari Proses Panjang hingga Panggung Juara, Tiga Film Terbaik Mahasiswa Ikom Umsida Berbicara Realitas

Ikom.umsida.ac.id – Penayangan 9 film karya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida) dalam tema Cineverse (Cinema and Universe) menjadi ruang temu antara ide, emosi, dan realitas sosial.

Melalui proses seleksi dan apresiasi karya yang ditampilkan pada Jumat (9/1/2026), tiga film berhasil menonjol dan dinilai paling kuat dari segi gagasan, visual, serta proses kreatif yang melatarbelakanginya.

Tiga karya tersebut tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga merefleksikan kerja tim, keberanian mengangkat isu sensitif, serta kesungguhan mahasiswa dalam menerjemahkan realitas ke dalam medium film.

Juara 1: Satu Ruang, Ribuan Emosi
Sumber: Istimewa

Film juara pertama dengan judul “Limang Dino” disutradarai oleh Reynato Neovaldy dari kelas 5B1. Mengangkat isu sosial tentang bullying, film ini berfokus pada dampak perundungan terhadap kondisi mental dan emosional seseorang.

Reynato menyampaikan bahwa kemenangan tersebut merupakan hasil dari kerja keras dan totalitas seluruh kru serta talent.

“Kemenangan ini bukan cuma buat saya, tapi juga buat tim yang sudah ngasih waktu, tenaga, dan ide-ide kreatifnya,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa keterbatasan sebagai kelas malam yang sebagian besar kru bekerja tidak menghalangi mereka untuk menghasilkan karya yang berdampak.

Totalitas Tim di Balik Proses Produksi

Dalam proses produksi, tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun ketegangan emosional dengan tema yang cukup berat.

Selain itu, keterbatasan teknis juga menjadi kendala, terutama dalam menciptakan suasana gelap dan mencekam di satu set lokasi berupa gudang.

“Kami sengaja menggunakan satu set lokasi agar bisa lebih fokus mengeksplorasi perasaan dan dinamika antar karakter. Keterbatasan itu justru menjadi kekuatan film ini,” jelas Reynato.

Menurutnya, kolaborasi tim yang solid menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas cerita dan visual.

Baca juga: Cineverse: Comfis 9 sebagai Ruang Apresiasi Film Mahasiswa

Juara 2: Menghadirkan Perspektif yang Jarang Disuarakan
Sumber: Istimewa

Posisi juara kedua diraih oleh film yang berjudul “Maya Tantra” yang disutradarai oleh Ahmidi Alwi dari kelas 5A2 . Film ini mengangkat isu kesehatan mental, khususnya skizofrenia, dengan sudut pandang penderita.

Tatia mengaku tidak menaruh ekspektasi tinggi sejak awal.

“Kalau dibilang nggak berharap menang, ya fifty-fifty. Banyak yang lebih proper dan effort-nya kelihatan, tapi ternyata bisa menang,” ujarnya.

Film ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap individu dengan gangguan mental yang sering kali kurang mendapatkan perhatian.

Lihat juga: Tak Sekadar Viral, Ikom Umsida Dorong Generasi Muda Hadirkan Konten Digital Bernilai

Visual Natural dan Emosi yang Dilepaskan

Keunggulan Maya Tantra terletak pada visual dan pendekatan emosi yang dibuat senatural mungkin. Tatia menjelaskan bahwa para pemain dituntut untuk benar-benar melepas emosi demi menyesuaikan peran.

“Kami benar-benar effort di pemain. Emosinya dilepaskan supaya perannya dapat,” ungkapnya.

Meski dihadapkan pada tantangan seperti kondisi fisik kru, rasa lelah, dan cuaca, film ini tetap mampu menyampaikan pesan dengan kuat dan menyentuh.

Juara 3: Misteri yang Dibangun Perlahan
Sumber: Istimewa

Juara ketiga diraih oleh film yang berjudul “Wengi Kesijih” yang disutrdarai oleh Novia Ayu Hafidah dari kelas 5 A2. Kemenangan ini menjadi refleksi dari proses panjang yang penuh dinamika dan pembelajaran.

“Dari banyak kesalahan, beda pendapat, sampai ego masing-masing anggota tim, kami belajar buat saling ngerti dan nyatuin visi,” ungkapnya.

Seluruh proses tersebut membentuk pemahaman baru tentang kerja tim dan produksi film.

Belajar dari Kegagalan, Bertumbuh Lewat Proses

Novia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah miskomunikasi antara kru dan talent serta kegagalan shooting pertama akibat keterbatasan teknis.

Dari situ, tim melakukan evaluasi dan pengambilan gambar ulang dengan persiapan yang lebih matang.

Keunggulan Wengi Kesijih terletak pada alur cerita yang tersusun rapi, tidak berulang, serta dibangun dengan nuansa misterius yang mampu menjaga rasa penasaran penonton hingga akhir.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak minder dan takut gagal, karena setiap proses berkarya adalah ruang belajar yang berharga.

Penulis: Salwa Rizky Awalya

Berita Terkini

Gemastif Vol. 1 Dorong Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat di Banjar Kemantren
11/01/2026By
Cineverse: Comfis 9 sebagai Ruang Apresiasi Film Mahasiswa
10/01/2026By
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Dorong Kreativitas dan Citra Positif Sekolah Melalui Program Publikasi Digital di SMK Yos Sudarso
09/01/2026By
Ramai Konten Digital, Ikom Umsida Ajak Generasi Muda Produksi Konten Cerdas
08/01/2026By
Mahasiswa Ikom Umsida Semester 5 Jalani Projek Pembuatan Film sebagai Wujud Pembelajaran Berbasis Praktik
07/01/2026By
Internatonal Guest Lecture Ikom Umsida – USIM, Kupas Representasi Media dan Identitas
15/12/2025By
Mahasiswa Ikom Umsida Ikut Terlibat dalam Produksi Siaran Dialog KPK dan Pemprov Jatim tentang “Penguatan Pendidikan Antikorupsi”
09/12/2025By
The Z Stage: Bukti Kompetensi Mahasiswa Ikom Umsida Kelola Event
07/12/2025By

Prestasi

Fikri Sabet Perunggu UPSCC III 2025, Maba Ikom Umsida Siap Naik Level
02/01/2026By
Taklukkan Ketegangan Arena, Cinthya Ukir Prestasi di KBPP Polri Jatim Cup 3
22/12/2025By
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Umsida Harumkan Indonesia di Kejuaraan Dunia Arung Jeram
20/12/2025By
Mengubah Takdir dengan Pendidikan: Perjalanan Inspiratif Azzam di Wisuda Ke-46 Umsida
20/11/2025By
Bercerita Lewat Visual: Mahasiswa Umsida Sabet Juara 3 Videografi Nasional
30/10/2025By
Mahasiswa Ikom Umsida Raih Juara 2 di AEF 2025, Fotografi Human Interest Jadi Sorotan
06/03/2025By
Sempat Vakum 2 tahun, Cinthya Sabet Juara 2 Taekwondo Bela Negara Cup
04/03/2025By
Tekuni olahraga Bulu Tangkis: ini Kisah Mardi Lukas
17/11/2024By

Nur Maghfirah A., M.Med.Kom

Nama:

Tanggal Lahir

Scholar:

OJS:

Scopus:

 

This will close in 20 seconds